SEMPAK JADUL RICSONY
Dari zaman keteguhan di antara berbagai peninggalan masa lampau yang memancing tawa sekaligus rindu ... ada satu benda kecil, tetapi penuh makna, dia adalah ... sempak Ricsony (Awalnya bermerek Sony) Matane! 😁
Bagi sebagian besar bapak-bapak, bahkan embah-embah kayak pakde yang hidup di zaman orde baru, Ricsony bukan sekadar merek celana dalam, melainkan simbol kejantanan dan kesederhanaan. Serius!
Pakde tidak nemu catatan resmi tentang kapan Ricsony pertama kali muncul. Namun, berdasarkan ingatan produk ini mulai dikenal seiring bangkitnya industri tekstil lokal pada kala itu.
Namanya terdengar kebarat-baratan ya to, Lur? Seakan gabungan dari Ricson dan merek sebelumnya (Sony), membuatnya terdengar keren di telinga masyarakat zaman itu.
Benar sekali, Lur. Awalnya sempak ini bermerek Sony, karena mirip dengan merek elektronik Sony, akhirnya diganti Ricsony. Masalah hak cipta merek dagang kayaknya yang membuat sempak ini ada Ric-nya.
Yang unik apanya?
Di penutup depan, itu ada celah. Kalau kebelet pipis gak harus buka sempak, cukup mengeluarkan si Joni dari celah itu. Praktis to? Diancokk!!😁
Yang paling khas adalah jaring-jaring di bagian paha. Itu tidak ada di sempak mana pun. Catat!
****
Desain tak lekang oleh zaman loh, Lur. Warnanya hanya ada tiga. Pakde punya warna biru dan cokelat saja, merah gak punya.
Kamu tanya ukurannya?
Cuma ada tiga warna dan tiga ukuran, yaitu 32, 34, dan 36. (Bukan S, M, atau L).
****
Ah, sempak ini bisa dicuci berulang kali ... paling hanya kendur di karet pinggangnya, bahkan kadang diwariskan antargenerasi di rumah. Serius! Punya bapak bisa dipakai anaknya loh pada zaman itu. Rada aneh emang.😁
****
Orang zaman dulu itu jarang beli sempak baru karena yang lama masih bisa dipakai. Dari sana muncul candaan, “Kalau sempak Ricsony udah robek, berarti negara kita sedang krisis.” 😁
Bahkan tak banyak orang yang bisa beli sempak ini. Yang tidak mampu hanya pakai kolor saja. Hok oh. Domongi kok! Koyok mbahmu iko.
Pokoknya sempak Ricsony menjadi simbol keteguhan pria desa dan orang kecil.
Zaman itu harganya Rp.2.500 sebiji. Kalau sekarang harganya Rp.8.000. Murah to?
****
Masuk tahun 2000-an, sempak Ricsony perlahan menghilang dari toko-toko pakaian pria dan pasar dibanjiri produk impor dengan merek modern yang lebih lembut dan trendi.
Sempak Ricsony masih sempat bertahan dengan mengeluarkan produk berbahan katun, warna putih ... bahannya kayak singlet GT Man. Namun, produk itu pun akhirnya musnah tergerus zaman. Paham to? Kamu masih ingat to?
****
Kini, menyebut sempak Ricsony saja sudah cukup bikin orang tersenyum. Pakde jadi teringat mendiang bapak yang dulu berjalan gagah dengan hanya pakai sempak jaring yang satu ini saat mandi.
****
Begitulah, Lur. Hal kecil bisa membawa nostalgia tentang rumah, keluarga, dan masa dulu.
Ah, tak terasa hidup itu cepat berlalu ya, Lur.
Kini di dunia yang serba cepat dan modis, Ricsony menjadi ikon humor dan sejarah kecil bangsa. Ricsony bukan sekadar sempak. Ia adalah legenda.
Yang mau nostalgia atau pingin beli, masih ada di toko busana pasar Pedotan, Bangorejo. Pakde beli di sana kok.
Pakde yakin, yang pernah pakai sempak ini pasti sekarang sudah punya cucu. Ya, to? 😁
Tambahin boleh kalau mau nostalgia.
Dukung Pakde Noto di Trakteer


No comments:
Post a Comment